SYAIR PENANTIAN ( I )
Aku yang mematikan lampu
Aku yang mematikan lampu
saat bulan berada tepat di atas kepalaku
dan ku lihat kau tertidur pulas di pangkuanku
Bermimpilah
terbanglah
aku di sini denganmu
seumpama ibu yang menjaga bayinya sepanjang waktu
Lihatlah aku dalam mimpi
senandungkan lagu kisah sejati
kelak kau kan mengerti
makna bait-bait syair dari hati
Aku yang mematikan lampu
agar tak silau pandanganmu
saat kau terbangun di hari baru
SYAIR PENANTIAN ( 2 )
Kau matahari bagi jiwa
dan aku adalah bulanmu yang hampa
kau maharupa
melebihi maha raja
Aku tak berdaya
terhimpit sebongkah pesona
ah...rasanya aku ingin mati saja
Berhari-hari kau ku nantikan
hanya untuk memandangmu di bawah rembulan
dan itu sungguh mustahil pun tertahan
SYAIR PENANTIAN ( 3 )
Di mana rindu terpatri
yang akan menguatkan dua hati
Tak akan abadi dalam sendiri
nanti akan berakhir dan mati
Wahai pujaan yang jauh
biarlah angin sampaikan salam teduh
Dalam harap penantian saja
kau dan aku kelak bersua
Lihatlah aku dalam mimpi
senandungkan lagu kisah sejati
kelak kau kan mengerti
makna bait-bait syair dari hati
Aku yang mematikan lampu
agar tak silau pandanganmu
saat kau terbangun di hari baru
SYAIR PENANTIAN ( 2 )
Kau matahari bagi jiwa
dan aku adalah bulanmu yang hampa
kau maharupa
melebihi maha raja
Aku tak berdaya
terhimpit sebongkah pesona
ah...rasanya aku ingin mati saja
Berhari-hari kau ku nantikan
hanya untuk memandangmu di bawah rembulan
dan itu sungguh mustahil pun tertahan
SYAIR PENANTIAN ( 3 )
Di mana rindu terpatri
yang akan menguatkan dua hati
Tak akan abadi dalam sendiri
nanti akan berakhir dan mati
Wahai pujaan yang jauh
biarlah angin sampaikan salam teduh
Dalam harap penantian saja
kau dan aku kelak bersua
No comments:
Post a Comment