aku perih
menyaksikanmu bersama bunga-bunga di jalanan
menciuminya bak seseorang yang mabuk
memeluknya bak seseorang yang kecanduan marijuana
aku sedih
mengenang kalimat-kalimatmu yang bak senandung surga
kau suarakan di atas mimbar suci
seperti percikan air zam-zam dari sumur tanah suci
aku pedih
mendengar janji-janjimu yang seakan nyata di masa depan
kau nyatakan di atas pujian malaikat
mengikatku seakan kau menyatu dengan aku
Lebih baik kau bunuh aku
daripada harus menyaksikanmu bermain hati
kau memang lebih suka di panggil pecundang
daripada seorang pejuang
atau aku saja yang membunuhmu
di hadapan bunga-bungamu itu?
puih....
Dan aku tak akan sebodoh itu memperjuangkanmu
karena memang kau bukan satu-satunya
dan aku bukan yang termalang di antara miliaran bunga
jadi lanjutkan saja kegilaanmu
aku akan menaburkan bubuk maaf
di antara perih dan pedih hati ini
05 maret, 2014
Cibinong city
menyaksikanmu bersama bunga-bunga di jalanan
menciuminya bak seseorang yang mabuk
memeluknya bak seseorang yang kecanduan marijuana
aku sedih
mengenang kalimat-kalimatmu yang bak senandung surga
kau suarakan di atas mimbar suci
seperti percikan air zam-zam dari sumur tanah suci
aku pedih
mendengar janji-janjimu yang seakan nyata di masa depan
kau nyatakan di atas pujian malaikat
mengikatku seakan kau menyatu dengan aku
Lebih baik kau bunuh aku
daripada harus menyaksikanmu bermain hati
kau memang lebih suka di panggil pecundang
daripada seorang pejuang
atau aku saja yang membunuhmu
di hadapan bunga-bungamu itu?
puih....
Dan aku tak akan sebodoh itu memperjuangkanmu
karena memang kau bukan satu-satunya
dan aku bukan yang termalang di antara miliaran bunga
jadi lanjutkan saja kegilaanmu
aku akan menaburkan bubuk maaf
di antara perih dan pedih hati ini
05 maret, 2014
Cibinong city
No comments:
Post a Comment